• banner 1
  • banner 2
  • banner 3

Selamat Datang di Website SMK NEGERI 4 PURWOREJO. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMK NEGERI 4 PURWOREJO

NPSN : 20338849

Jl. Purwodadi - Grabag Km. 5. Briyan, Ngombol, Purworejo


smkn4_purworejo@yahoo.co.id

TLP : 0275-2971077


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 288474
Pengunjung : 77879
Hari ini : 202
Hits hari ini : 3298
Member Online : 0
IP : 3.236.83.154
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan,




 

Lokasi

SMK Negeri 4 Purworejo

Lingkup Pendidikan

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Tujuan yang ingin dicapai

Meningkatkan Keterampilan Peserta Didik Menggunakan Jangka sorong dan Mikrometer sekrup serta Hasil Belajar melalui Model PBL (Problem Based Learning) pada Materi

Pengukuran

Penulis

Jati Purnomo, S.Pd.

Tanggal

19 Januari 2023

Situasi:

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah adalah: Guru melakukan observasi dan wawancara kepada rekan sejawat dan juga ahli untuk menggali permasalahan tentang kesulitan peserta didik dalam membaca hasil pengukuran menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup.

Dalam praktikum pengukuran,   siswa   kurang   teliti dalam melakukan pengukuran dengan   jangka   sorong dan mikrometer sekrup. Pembacaan skala utama jangka sorong, seharusnya skala utama yang dibaca adalah skala terbaca sebelum skala 0 noniusnya, namun siswa membaca skala utama pada skala yang berbatasan dengan rahang geser. Siswa juga kurang lancar dalam menentukan nilai skala nonius berdasarkan ketelitian jangka sorong dan mikrometer sekrup.

Berdasarkan hasil observasi dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab kesulitan membaca hasil pengukuran

 

 

dengan jangka sorong dan mikrometer adalah sebagai berikut :

1.   Peserta didik belum terbiasa menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup dalam proses pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari.

2.   Adanya pandemi saat mereka masih duduk di bangku SMP , sehingga pembelajaran dilakukan secara jarak jauh. Peserta didik merasa belajar jarak jauh tidak mendapatkan pemahaman maksimal karena tidak ada kegiatan praktikum.

3.   Pembelajaran fisika sejatinya dilaksanakan secara praktikum namun lebih sering monoton dengan ceramah dan latihan soal. Hal ini membuat peserta didik kurang memahami cara penggunaan dan juga menghitung skala yang diperoleh dari perhitungan menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup.

Praktikum langsung perlu dilaksanakan karena bisa menjadi inspirasi pembelajaran fisika khususnya di SMK. Apalagi mapel fisika kini berubah menjadi proyek IPAS.

4.   Guru belum inovatif dalam pembelajaran. Sebagai guru kita membutuhkan inovasi-inovasi agar pembelajaran di sekolah menjadi bermakna.

 

Praktik pembelajaran ini penting dibagikan karena dapat menimbulkan dampak yang sangat positif dalam proses pelaksanaan pembelajaran, terutama untuk bisa dijadikan inspirasi bagi rekan sejawat yang mengajar fisika atau IPAS di Sekolah Menengah Kejuruan. Dengan berlakunya       Implementasi       Kurikulum       Merdeka,

pembelajaran diharapkan lebih mengembangkan potensi

 

 

peserta      didik      sesuai      dengan       kompetensi mereka.

Pada praktik ini saya berperan sebagai guru sekaligus fasilitator yang bertanggung jawab untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan dengan memaksimalkan potensi peserta didik serta sarana prasarana yang ada.

Tantangan :

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat,

Beberapa tantangan yang dihadapi guru saat melaksanakan praktik baik ini adalah :

1.     Peserta didik sebagian besar belum pernah menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup dalam pembelajaran di SMP. Bahkan ada peserta didik yang sama sekali belum pernah melihat alat tersebut.

Dengan jumlah alat yang terbatas di laboratorium menyebabkan proses pelatihan pengukuran dengan kedua alat tersebut menjadi kurang maksimal. Peserta didik harus bergantian dalam melakukan latihan pengukuran.

2.     Model pembelajaran yang dipakai belum berpusat pada peserta didik. Sesuai kebijakan pada kurikulum merdeka, model pembelajaran yang disarankan adalah Problem Based Learning atau Project Based Learning. Namun guru belum menerapkannya karena keterbatasan pengetahuan guru.

 

3.     Peserta didik sangat jarang melakukan pembelajaran praktik langsung dengan alat-alat peraga atau simulasi.

4.      Pemanfaatan TPACK yang masih rendah.

Yang terlibat dalam praktik baik ini adalah guru sebagai fasilitator dan pembimbing (Dosen dan guru pamong)

 

 

kemudian peserta didik sebagai objek yang belajar

langsung.

Aksi :

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan yang ada antara lain :

1.   Guru memilih 4 peserta didik untuk menjadi tutor sebaya di kelompok masing-masing. Peserta didik diajarkan untuk mengukur diameter piston dan juga panjang/ tinggi dari sebuah piston menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup.

2.   Guru mempelajari model pembelajaran PBL untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis terhadap suatu permasalahan.

3.   Guru membuat modul ajar dan mempersiapkan sarana prasarana (LCD dan sound) serta alat untuk praktikum pengukuran.

4.   Guru memberikan contoh konkret dari kejadian yang ada dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kompetensi peserta didik.

5.   Menerapkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik yakni problem based learning . Pembelajaran ini membuat peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran. Pengetahuan dan konsep yang mereka pahami diperoleh dari kegiatan pembelajaran itu sendiri.

 

Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran PBL ini meliputi :

Pembukaan:

1.   Berdoa, salam dan presensi siswa.

2.   Apersepsi Pembelajaran

3.   Guru mengajak peserta didik untuk menyimak video cara

kerja mesin 2 Tak. Peserta didik mengamati komponen apa yang ada didalam ruang bakar dan proses kerjanya.

 

 

4. Guru memberikan pernyataan pemantik untuk menggiring opini peserta didik terhadap materi pengukuran volume piston.

Kegiatan inti (model PBL) Orientasi siswa pada masalah

1.   Guru menjelaskan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup melalui  slide power point

2.   Guru menunjukkan piston serta alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup.

3.   Peserta didik diberikan masalah terkait dengan menghitung volume langkah (VL = cc) sebuah piston mesin kendaraan roda 4 / mesin diesel sesuai dengan tipe piston tersebut dan membandingkan dengan standar dari pabrik serta alat yang paling presisi untuk mengukur diameter maupun panjang langkah piston.

4.   Guru menayangkan video cara pengukuran volume langkah (VL = cc) sebuah piston kendaraan dan peserta didik mencermatinya.

Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar

1.   Guru membuat kelompok yang beranggotakan 4 orang

2.   Guru mempraktikkan pengukuran dengan jangka sorong dan mikrometer sekrup mengunakan aplikasi vernier calipper dan micrometer calipper dari Steffanelli untuk menguatkan siswa dalam menentukan nilai dari sebuah pengukuran.

3.   Guru selanjutkan membagikan LKPD kepada setiap kelompok.

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

1. Guru meminta peserta didik dalam kelompok untuk mendiskusikan               pertanyaan                           dan               permasalahan                           yang

diberikan di LKPD serta melakukan praktik pengukuran.

 

 

2.   Guru membimbing penyelidikan dan membantu peserta didik yang masih kesulitan dalam melakukan pengukuran maupun pengisian LKPD.

3.   Peserta didik mengukur diameter piston dan panjang piston/tingginya dengan jangka sorong dan mikrometer sekrup.

4.   Guru meminta peserta didik untuk melaksanakan perhitungan volume langkah silinder (VL) .

5.   Setiap kelompok mendiskusikan hasil pengukuran diameter dan panjang lengan piston serta volume langkahnya sesuai tipe yang ada serta membandingkan dengan standar dari pabrik.

6.   Peserta didik menyimpulkan alat yang paling presisi untuk mengukur diameter dan panjang langkah piston.

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.

1.   Guru melakukan pemantauan terhadap hasil penyelidikan praktikum siswa dalam LKPD.

2.   Setiap kelompok melaporkan hasil penyelidikan dan praktikumnya di depan kelas.

3.   Kelompok yang lain memperhatikan dan menanggapi hasil presentasi rekannya (pertanyaan / pendapat )

Menganalisis           dan           mengevaluasi                                 proses pemecahan masalah

1.   Guru meminta peserta didik untuk dapat menyimpulkan hasil pengukuran diameter dan panjang lengan piston serta volume langkahnya sesuai tipe yang ada serta membandingkan dengan standar dari pabrik dan alat ukur yang paling presisi untuk digunakan

2.   Peserta didik menyampaikan kesulitan-kesulitan saat melakukan pengukuran diameter dan panjang langkah piston serta perhitungan volume langkah (VL = cc) sebuah piston

Penutup

 

 

1.       Guru mengapresiasi sikap peserta didik, rasa ingin tahu, saling menghargai, gotong royong dan percaya diri dalam diskusi.

2.       Guru memancing peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya tentang kegiatan apa saja yang telah dilakukan dan bagaimana rasanya.

3.       Peserta didik dengan bimbingan guru mereview dan menyimpulkan materi dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung.

4.       Peserta didik dengan arahan guru menyimpulkan manfaat lansung dan tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung.

5.       Guru mengarahkan peserta didik untuk mengerjakan

post test melalui google form,

6.       Guru menginformasikan kegiatan pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

7.       Doa dan salam.

 

 

Strategi    dan    prosesnya    ada    pada    langkah-langkah pembelajaran.

Pihak yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain:

1.       Guru mata pelajaran Proyek IPAS sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.

2.       Ibu Duwi Nuvitalia selaku dosen pembimbing dan Ibu Budi Hartati selaku guru pamong sebagai pembimbing dalam menyusun rencana praktik pembelajaran.

3.       Peserta didik kelas X TKRO sebanyak 16 Taruna sebagai obyek dalam praktik pembelajaran

4.       Bapak Tobing Jaka Raditya Putra Bagus Pamungkas selaku rekan sejawat yang membantu menyiapkan peralatan praktikum dan proses perekaman.

 

 

Sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini :

1.       SDM (guru dan peserta didik)

2.       Sarana prasarana (modul ajar, laptop, LCD dan sound)

3.       Alat praktikum (jangka sorong, mikrometer sekrup dan piston)

4.       LKPD

Refleksi Hasil dan dampak Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif? Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut

Dampak dari pembelajaran yang berpusat pada siswa diuraikan sebagai berikut. :

1.       Peserta didik menjadi terampil dalam menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup yang terlihat dari hasil pengukuran panjang piston, tinggi piston dan volume langkah yang tertera di LKPD.

2.       Hasil belajar peserta didik terjadi peningkatan. Ini dapat terlihat dari korelasi nilai Pretest dengan Post test yang dikerjakan oleh peserta didik.

3.       Pembelajaran Problem Based Learning memberikan pengalaman baru kepada peserta didik dengan memecahkan suatu masalah dari proses penyelidikan dan diskusi kelompok.

 

Hasil yang diperoleh dari pembelajaran

Hasil pembelajaran cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan peserta didik meskipun secara umum membutuhkan waktu lebih lama dalam proses menemukan informasi dan menganalisa data hasil pengukuran dengan jangka sorong dan mikrometer sekrup.

 

Respon dari rekan sejawat

Respon dari rekan sejawat menyatakan pembelajaran memang sudah harus menerapkan pendekatan student centered. Guru harus melakukan pembelajaran yang sesuai

dengan karakteristik peserta didik dan melakukan praktik

 

 

pengukuran langsung dengan menggunakan alat-alat dan benda kerja sesuai dengan kompetensinya.

 

Faktor yang menentukan keberhasilan

Faktor yang menjadi penentu keberhasilan dalam proses pembelajaran ini adalah peran guru, rekan sejawat, dosen pembimbing serta guru pamong dan juga partisipasi aktif dari peserta didik.

 

Pembelajaran dari keseluruhan proses

Pembelajaran yang bisa dipetik oleh guru yakni ternyata jika peserta didik diberi kebebasan dalam belajar mereka dapat menemukan hal-hal baru dan yang dapat diaplikasikan sesuai dengan kompetensinya dan dalam kehidupan sehari- hari. Kegiatan praktik secara langsung dengan alat dan bahan dari bengkel lebih disukai oleh peserta didik.Guru harus terus berinovasi menerapkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dan memfaatkan teknolgi yang ada.

Rencana Tindak Lanjut

Dari praktik pembelajaran yang sudah dilaksanakan, guru akan selalu berusaha menerap model PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Menyenangkan ) yang melibatkan seluruh peserta didik.

Guru akan memberikan pengalaman baru pada peserta didik untuk materi pengukuran dengan menggunakan aplikasi jangka sorong dan mikrometer sekrup yang dapat diunduh melalui playstore dengan HP mereka masing-masing. Sehingga peserta didik dapat belajar mandiri dirumah walaupun tidak ada alat jangka sorong dan mikrometer sekrup.

 

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas